Kulit Kacang Pantai Kasap Pacitan

by - Februari 13, 2021


Pantai Kasap Pacitan
Pantai Kasap dari Tepi Tebing
“Met, depan belok kanan, ya!” ucapku sedikit keras, diadu bunyi knalpot dari beragam kendaraan yang lalu lalang. Tepat di perempatan besar, Bamet melajukan motor sesuai arahan. Sedikit hening, mungkin aku dan Bamet sama-sama mulai lelah. Sudah dua jam perjalanan, tetapi sepertinya tujuan masih sangat jauh dari depan mata. Mana sinyal mulai datang pergi sesuka hati. 
Satu jam kemudian, sinyal peta digital benar-benar hilang saat kami dihadapkan pada pertigaan jalan. Tanpa petunjuk, hanya ada derik hewan bersahutan kencang di antara bukit-bukit hijau yang menjulang sepanjang mata memandang. Waduh!
“GPS masih nyala?”
“Masih, tapi nggak gerak-gerak.” keluhku. 
Bamet menepikan kendaraan, mengambil alih ponsel yang sedari tadi menjadi penunjuk jalan. 
Kali ini benar bukan aku yang tidak pandai membaca arah. Sebab semenit berlalu, Bamet masih berkutat dengan peta tanpa ada tanda baik. Akhirnya Ia memutuskan mengambil jalur kiri. Toh, pilihannya hanya dua: kalo nggak nyasar, ya nyampe. Beruntung kami berpapasan dengan seorang warga yang berbaik hati menjelaskan bahwa kami harus putar balik, mengambil jalan satunya. 
Tidak lama setelah kejadian maps mati, kami tiba di loket karcis Watu Karung yang menjadi pintu masuk kawasan Pantai Kasap. Setelah membayar lima ribu rupiah per orang, aku, Bamet, dan tentu saja si Motor Merah disilakan masuk, melewati jalur beraspal yang cukup kecil jika dilalui mobil. 
Terlalu bersemangat segera bertemu laut, lagi-lagi kami salah melewati pertigaan, justru menuju gerbang keluar kawasan wisata. 
“Pertigaan tadi, itu, Mas, ambil kanan.” ucap penjaga gerbang mengarahkan kami menuju jalan sama kecil seperti sebelumnya. Menyusuri tepian Sungai Cokel berhiaskan pohon rindang melambai, ditambah deretan kapal nelayan yang sedang bersandar. Seketika udara sejuk berhembus menggantikan penat di kepala yang sedari tadi pusing menahan beban helm. 
Sungai Cokel Pacitan
Muara Sungai Cokel  
Toilet dan Cerita Pemilik Homestay 
Setelah empat jam perjalanan membuat boyok berteriak, tempat yang ingin kami serbu tentu saja toilet. Namun sedih, berderet toilet di dekat lokasi parkir terlihat terkunci. Perlu 300 meter hingga bertemu fasilitas buang hajat lengkap dengan toko buah tangan yang buka. Seorang ibu paruh baya menyapa sambil tersenyum ramah. 
“Mari mbak istirahat dulu. Dari mana?” 
Tak perlu menunggu lama, banyak cerita mengalir dari obrolan antara aku, Bamet, dan ibu yang ternyata pemilik homestay di samping warung tempat kami nongkrong. Tentang turis-turis lokal yang kebanyakan dari Jogja-Solo, tentang bagaimana warga lokal bergotong-royong membangun-menjaga kawasan Pantai Kasap, hingga pandemi yang berdampak sepinya pengunjung wisata.
“Di sini ketat, Mbak. Kemarin ada tamu mau menginap, tapi dari tempat asal udah ndak enak badan. Nggak dibolehin sama Bapak. Karena Bapak juga ketua Pokdarwis, jadi disuruh balik.” kata beliau miris, “Saya ya butuh duit, tapi kalau sakit begitu kan bahaya juga. Mending nggak dapat duit daripada-daripada.”
Aku dan Bamet yang mendengarkan mengangguk serempak sembari merapatkan masker, sadar diri masih suka lengah tentang covid.
Pantai Kasap Pacitan
Pantai Kasap Pacitan
Terik matahari siang masih menyengat saat aku dan Bamet bergeser ke warung makan di tepi tebing tinggi yang menghadap ke laut lepas. Segelas es lemon tea bersanding kentang goreng menjadi teman bengong sembari menunggu langit meredup untuk berenang. Sedangkan Bamet masih asyik mengupas kacang rebus pemberian Ibu Pemilik Homestay.
“Met, ayo main cari pasangan kulit kacang yang udah dibuka ini.”
“Dih, gabut amat.”
Dua menit kemudian, Bamet justru lebih sibuk mencari dan menyatukan kembali pasangan kulit kacang yang sudah tercerai berai. Kami berlomba banyak-banyakan membuat kulit kacang rujukTentu saja, dia menang, aku terlalu gengsi mengakui dia bisa lebih cepat dari aku yang memberikan tantangan. Nggak penting emang, tapi dia mau aja :') 

Pasir Putih, Karang, Debur Ombak Pantai Pribadi 

Tepi Pantai Kasap
Kecil sekali manusia.
Di sudut timur pantai, langit sumringah cerah mendadak berubah sendu saat Bamet sudah siap mencemplungkan diri ke pantai. Gelombang yang tinggi semakin lengkap dengan hembus angin kuat. Agaknya kami bisa melihat hujan telah turun deras di tengah laut sana. Sedih
Bamet pun mengurungkan niat basah-basahan. Berdua memilih menikmati debur ombak dari tepian, menjejak membenamkan kaki-kaki telanjang di butiran pasir pantai, sembari merekam satu persatu memori melalui lensa kamera. 
Hening. Tidak ada obrolan di antara kami. Sibuk menikmati gulungan air yang silih berganti, berbuih, dan menyejukkan pikiran. Sesekali berdansa menghadap lautan, berlarian melempar keluh kesah agar hilang tenggelam di tengah samudera sana. Menenangkan sekali. 
Mungkin karena bukan akhir pekan, ditambah pembatasan sosial yang berlangsung di beberapa kabupaten membuat tak banyak pengunjung yang datang hari ini. Kebun di pinggir pantai pun tampak kosong ditinggal petani kembali ke rumah masing-masing. Hanya ada aku dan Bamet bermain bersama ombak serta sepasang kekasih yang mulai mendirikan tenda di sebelah yang lain.
Sore yang menyenangkan. Sebelum (lagi-lagi) kami harus berlarian meneduh sebab hujan turun deras tanpa ampun.
***
Bonus foto Sungai Cokel pas enggak turun hujan~
Sungai Cokel Pacitan
Sungai Cokel
Ps. ada wisata susur sungai di kali yang cakeup ini, lain kali harus nyoba! ((kemarin enggak coba karena harus segera pulang T.T)) 

Yuk, cek artikel yang ini!

4 komentar

  1. foto pertama berasa berasa di lombok mba, cakep sekalii, tapi justru lebih asyik kalo lagi sepi banget, selain jadi merasa lebih safe juga foto jadi cakep tanpa tambahan2 wujud orang lain yang tertangkap kamera, beneran karena pandemi, saya jadi lebih memilih tempat wisata yang sepi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Wah nama pantainya apa, Kak? Nah, waktu ke sini saya juga enggak pasang ekspektasi bakal sebagus dan sesepi itu. Hidden gems sekali ini pantai, cocok buat jalan-jalan tenang di tengah pandemi, tapi tetap harus terapkan protokol kesehatan hehe.

      Hapus
  2. Pacitan itu pantainya bagus2 yaaa. Aku blm semua datangin pantai di sana sih, yg udah pernah cuma klayar. Tapi duluuu banget, pas Klayar blm seterkenal sekarang mba. Pas DTG aja masih sepiiii, masih alami banget, sama kayak pantai kasap di atas.

    Jujur aku LBH suka pantai yg msh alami begini, blm rame. Kapan2 kalo ke Pacitan lagi, mau jelajahin pantai2nya ah :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Baguuuss banget, Kak! Klayar sekarang udah rame, terus udah banyak renovasi yang dibeton gitu kata ibu-ibu penjaga pantainya. Emang paling seru ke pantai yang masih sepi, berasa pantai pribadi wkw. Yuk, kak eksplor Pacitan lagi dari ujung sampe ujung wkwk

      Hapus