Secuil Siasat Mengusir Overthinking

by - Desember 07, 2020

Oh, ternyata begini rasanya jadi manusia di usia 20-an?
Beragam pertanyaan dan pernyataan yang menuntut mulai menyerbu. Mulai dari “Skripsi sampai mana?”, “Enggak coba-coba kerja, ta, biar ada pengalaman?”, sampai sindiran next level macam: “Eh, Mbak, kayanya mamamu udah ngebet gendong cucu, deh!”
Gusti tolong selamatkan hamba-Mu ini:(
Tepuk tangan salut buat kamu yang sampai detik ini belum pernah merasa overthink. Aku yakin sih, kebanyakan manusia –apalagi di fase remaja otw dewasa, pasti pernah aja gitu mikir berlebih soal hal yang 'enggak-enggak'. Tentang masa lalu, yang sedang dijalani, dan paling sering, ya bayang-bayang tentang masa depan. Bisa enggak sih aku memenuhi ekspektasi dari diriku sendiri? 
Hmmm kalau dipikir bagus buat evaluasi diri atau juga merencanakan masa depan. Tapi, kalau malah tiap kosong dikit langsung melamun, justru bikin suntuk seharian. Yang awalnya niat produktif, eh malah mikir berlebih dan berujung goler sambil main ponsel doang sebagai alasan buat menghibur diri
Ada baiknya emang jangan ada overthinking di antara kita, lol.

Kok Bisa Sih Manusia Overthinking
Udah mumet berpikir yang enggak-enggak, masih kepikiran pula, hei, kenapa aku bisa overthink? 
Based on research, kebiasaan terlalu-banyak-berpikir ini bermula dari perasaan kita untuk melindungi diri dari kemungkinan-kemungkinan buruk yang bisa saja terjadi. Akan tetapi, semua yang berlebih memang tidak baik, kan? Terlalu berlebih memikirkan suatu hal tanpa berfokus pada problem-solving, justru bisa mengusik kesehatan mental dalam jangka panjang.

Let's Say Bye to Overthink.
Nah, kalau sudah begini, rasanya butuh refreshing buat ngosongin otak. Tenang, ada banyak hal di dunia yang bisa dilakukan untuk mengusir beban pikiran. Walau efeknya nggak permanen, setidaknya bisa bikin fresh sejenak. 

First of all, do the ‘social media-distancing’ challenge. Ini efeknya bukan main, asli. Masa percobaan bisa dimulai dengan menghilang dalam hitungan jam. Susah? I would say yes. Sering banget berpikiran harus tetep update ini-itu, terus keep in touch sama teman-teman via WhatsAp, merasa gabut kalau nggak scroll sana-sini terus pusing liat si A B C udah pada seminar sedangkan aku punya judul aja belum. Yak curhat. Menurut penelitian yang dimuat dalam Journal of Social and Clinical Psychology, terus-terusan mengakses sosial media justru memicu rasa kecemasan, depresi, kesepian, hingga perasaan takut ketinggalan. So, let’s leave over our phone for a while, Dear. 

grounding
Kedua, breath of the fresh air. Kadang tanpa disadari, kita terlalu lama berada di dalam ruangan. Nah, ini bisa bikin jenuh, suntuk, bawaan kzzzl aja udah. Coba yuk jalan-jalan keliling komplek atau sekadar earthing alias menghubungkan diri dengan alam, sesederhana jalan tanpa alas kaki di atas rumput. Pilihan lain yang paling aku suka, ya, riding. Keliling ringroad sambil ngedumel nggak jelas atau teriak juga boleh—yang di Jogja pasti tahu feelnya—berasa beban pikiran ilang dibawa angin. 

Luapkan gais, luapkan!
Saran ketiga, ya menulis, atau berkarya dalam bentuk lain. Mungkin bisa gambar, taking foto, mix matched baju, dan sebagainya. Luapan emosi kadang bikin tulisan—atau karya yang lain—terasa lebih hidup. Bahkan sekadar menulis ungkapan hati di buku diari yang nggak ada orang boleh baca.
"Ah, aku nggak bisa bikin-bikin begituan, Jen." 
Chill, Dude. Nggak ada juri, nggak ada peserta di sini. Cuma meluapkan emosi. Cari alternatif yang sekiranya kita enjoy ngelakuinnya. Oke?

Pilihan keempat, beberes rumah. Mungkin agak gimanaaaa gitu, tapi valid, kok! Alihkan perhatian pada kegiatan yang memicu kebahagiaan. Ih wow apa bahagianya bersih-bersih rumah? Ada, ngebahagiain emak malah. Kalau kata co-director San Francisco Bay Area Center for Cognitive Therapy, menata ulang rumah termasuk mastery activities yang kalo dipikir-pikir membosankan, tapi justru memperbaiki mood karena membuat kita mencapai suatu goal. Bisa juga coba metode decluttering ala Marie Kondo, sekalian memilah barang-barang yang sudah penuh-penuhi kamar kos atau rumah, yekan?

Pengalihan dari overthinking ini bisa beda-beda tiap orang, ya! Jadi perlu tau dulu nih, apa yang kita suka, apa yang kita nggak mau. Yuk, pelan-pelan recognise our self. Semoga bermanfaat:)

Yuk, cek artikel yang ini!

5 komentar

  1. Hi mbak, salam kenal :)

    Aku setuju sama semua list yang ditulis hehe dan semuanya sudah pernah tak lakuin ketika overthinking ku lagi kumat..
    Yang paling membantuku adalah point ke-4 dari sekian banyak cara yang sudah aku coba.. Menulis memang paling bisa membantuku, setelah menulis, pikiranpun berasa plong lagi :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hai, Mbak Aqma. Salam kenal juga!
      Kita miripan nih, mbak. Numpahin uneg-uneg lewat tulisan tu bagiku juga stress relief paling hemat tenaga dan paket komplit. Overthink hilang, bonusnya ngehasilin karya juga (even cuma tulisan random, hihi😳)

      Hapus
  2. Hai kak, iya bener banget rasanya jaga jarak sama sosial media tuh susah-susah gampang. aku juga dulu pernah log out dri sosial media kayak instagram, facebook, whatsapp,twitter. Rasanya nyaman banget sih wkwkwk walaupun sering ketinggalan berita:(. tapi semenjak daring ini nggak harus dengan terpaksa instal ulang lagi

    BalasHapus
    Balasan
    1. Setuju, Kak Nadya! Ngerasa nyaman dan tenang, selow banget nikmatin hidup. Semenjak pandemi ini aku juga belum bisa off total lagi, cuma bisa kontrol penggunaan sosmed, dan itu susah huhu:(

      Hapus
  3. Media sosial solusi paling mantul tapi juga paling susah kalo belum di biasakan haha

    BalasHapus