Jejak Bermain Hujan di Dieng

by - November 14, 2020

Kawasan Kawah Sikidang

Throwback to the rainy February at Dieng!

Dari awal kuliah di Jogja, Dieng udah nangkring sebagai most wanted place di wishlistku, tapi berhubung hidup penuh drama enggak bisa ditebak, rencana pun baru jadi kenyataan Februari lalu. Prinsip mbolang kali ini adalah yang penting jalan-jalan(!) Belum tahu aja kalau pulang-pulang dari Dieng kudu ndekem lebih dari 5 bulan di rumah gara-gara Corona. Sad.  

Hujan, Teman Bermain di Dieng Bulan Februari 

Ala pemandangan pegunungan pada umumnya, hamparan kebun diselingi rumah warga menyapa mata begitu kami memasuki kawasan dataran tinggi Dieng. Udara segar menyeruak, ditambah bau daun-daun basah sisa embun. Suguhan mata yang worth it jika dibanding dengan tantangan yang harus dihadapi, jalanan meliuk menanjak berhias lumpur yang bikin motor -dan Bamet si rider- lumayan megap-megap. 
Butuh waktu sekitar empat jam hingga akhirnya kami tiba di lokasi wisata Dieng kulon yang terletak di perbatasan Wonosobo dan Banjarnegara. Tanpa menunggu lebih lama, kami memilih Candi Arjuno sebagai tujuan awal, mengingat lokasinya yang cukup dekat sekaligus bisa dijadikan tempat guling-guling ngelurusin punggung. Capek coy!
Mendapati langit biru cemerlang di waktu biasa turun hujan dan hembusan angin yang enggak terlalu kencang, rasanya: uh, perfect! Ekspektasi liburan tenang tanpa harus basah-basahan semakin membayang. 
----
Hadeh, diomongin, sih!
Satu jam kemudian, ilusi tentang hari cerah mendadak hilang, berganti dengan pengunjung yang lari-larian mencari tempat berteduh, sebab terangnya matahari sudah berganti awan gelap lengkap bersama hujan yang turun makin deras. Mau tidak mau, kami harus segera meninggalkan tanah lapang Candi Arjuno dan membelokkan tujuan kami ke Dieng Plateau Theater (DPT). Menghabiskan waktu dengan menonton film pendek selagi berharap sore bakal kembali cerah. 
Alam memang baik atau labil?, hujan mereda sebelum sampai antrean kami menonton bioskop. Mumpung terik matahari mulai muncul, kami melipir menuju Batu Pandang Ratapan Angin yang terletak tepat di atas Dieng Plateau Theater.

Telaga Warna, Dieng.
Lumayan bikin encok juga mendaki di tengah tanah becek. Untungnya, susah payah kami terbayar foto wajah berseri dengan latar belakang pemandangan Telaga Warna. Indah. 
Kalau kamu berencana –atau dadakan berkunjung ke Dieng sekitar bulan Februari, ada baiknya selalu sedia mantel dan dibawa ke mana-mana. Sebagai antisipasi hujan deras yang datang dan pergi tanpa bisa diprediksi. Terutama selepas pukul sebelas siang dan sering kali baru berhenti total nyaris tengah malam. Cukup untuk membuat kelimpungan kala menikmati wisata dan so pasti, sambat. 
“Wah, memang gini, Mbak, musimnya. Seharian hujan terus, malah kadang dari pagi sampe pagi lagi.” kata ibu penjual gorengan di kawasan Batu Pandang Ratapan Angin, saat mendengar kami menggerutu karena hujan kembali datang. 
'Nggak papa, hari ini spesial bentar doang,' kata Bamet, berusaha berpikiran positif agar vibes liburan enggak berubah sendu kaya langit Dieng. Entah berapa lama kata ‘sebentar’ maksud Bamet, yang jelas hampir dua jam setelah menonton dokumenter, kami hanya duduk-berganti posisi-nyaris pingsan dilanda bosan menunggu hujan reda.
'Wedan, yakali nunggu terang, bisa-bisa niat dolan malah berubah jadi goler-goler di pelataran bioskop doang?!' Mau enggak mau, harus rela berkeliling mengenakan mantel dengan sedikit basah-basahan. Sudah berpikiran buruk, ga asik dong main ke kawah deres begini? 
Ternyata eh ternyata, berkeliling kawasan Kawah Sikidang pas hujan seru, Gais! Lebih sepi, bisa jalan ke sana-sini sambil gandengan tangan, terus muter-muter ala sinetron India, haha. Penjual di kawasan kawah juga tetap buka, lho –termasuk telur rebus kawah. Nggak perlu khawatir kelaparan, kami tetap bisa nyemil sambil kecek-kecek kaki di aliran air panas. Psst! Dah pasti mengambil potret diri demi perkontenan duniawi, walau setelahnya harus rela speaker ponsel blubub-blubub kemasukan air. Sad.

Si Bamet ujan-ujanan~

Tempe Goreng dan Sunrise Puncak Sikunir

19.47 Hujan belum benar-benar reda saat kami sudah duduk-duduk syantik, menyesap teh panas dengan uap mengepul di salah satu penginapan milik warga Desa Sembungan, desa tertinggi se-pulau Jawa. Kata bapak pemilik rumah, kalau hujan belum berhenti hingga lewat tengah malam, kemungkinan bakal awet sampai pagi, dan ada baiknya kami mengubur harapan untuk berangkat ke puncak Sikunir. Hikd, sedih. 
“Udah, tidur sek, terang kok terang.” ujar Bamet berusaha menghilangkan risau.
04.30 Azan subuh baru saja selesai saat kami bernapas lega mendapati hujan telah berlalu.
Grusak-grusuk motor keluar dari gang penginapan, menarik perhatian tetangga yang kebanyakan hendak berangkat salat Subuh ke masjid. Apa nggak kepagian?
Kata Bamet, nggak, jaga-jaga kalo capek bisa istirahat. (dibaca; jaga-jaga kalo aku jalan lemot). Untung manut, aku bisa mam tempe panas selagi menunggu Bamet salat.
Sambil menikmati gorengan yang panasnya hilang dalam sekejap, aku ngobrol dengan Ibu penjual tempe. Dari beliau aku tahu kalau hujan sudah berhenti sejak tengah malam. Beliau pun bercerita pendakian hari ini cenderung sepi, mungkin karena hari Senin jadi enggak terlalu banyak turis. Dibanding mengejar momen matahari terbit di Sikunir, orang-orang kini lebih tertarik mendaki ke Prau atau Sumbing sekalian. Di tengah cerita, beliau tertawa saat aku sambat semalam susah tidur gara-gara kedinginan.
“Loh, gini ini anget, Mbak, coba mbake dolan pas kemarau, sampek ketutup kembang es kui rumputnya.” Jawab ibu dalam bahasa campuran, lalu menawarkan sarung tangan.
Aku menolak, menutup obrolan dengan menyodorkan uang lima puluh ribuan. 
Sebenarnya, pendakian ke puncak Sikunir ini enggak begitu berat, sudah ada fasilitas anak tangga dan jalan setapak, pun hanya perlu waktu empat puluh lima menit sampai satu jam buat sampai ke puncak, tapi gimana, ya? kaki kentang ini mana biasaaaaaaa~ Baru tiga ratus meter aja rasanya napas engap dah mau habis. 
Puncak Sikunir Berkabut Total!
Parahnya, pengharapan kami tentang sunrise agaknya harus berakhir kecewa. Puncak Sikunir justru berkabut gelap. Nyaris pukul tujuh dan enggak ada tanda-tanda matahari mengintip di antara pemandangan gunung. Justru rintik kembali turun, entah air hujan atau embun pagi, yang jelas menuntut kami segera kembali ke bawah dengan sedikit rasa sesak. Kayanya sih, harus remedial, haha!
***

Yuk, cek artikel yang ini!

4 komentar

  1. Wah aku dah lama pengin kedieng cuman belum terlaksana hehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. Main kak, tapi kalo boleh saran nunggu kemarau aja, hehe

      Hapus
  2. MasyaAllah sungguh indah ciptaan-Mu, selalu menarik liat orang traveling ke tempat macam begini, tapi kok ku ogah banget jalan ya hahaha

    BalasHapus
    Balasan
    1. MasyaAllah bagus banget, Kak! Sesekali kudu nekat nyoba walaupun pulang-pulang tepar wkwk🥲

      Hapus