Catatan Serunya Ikut Festival Dering Daring: “Brainstorming Ideas for Online Content”

by - September 07, 2020

Aloo! Long time no see. Sekian lama nggak update, akhirnya aku kembali!
Bulan Juli lalu, aku ikut salah satu webinar dari rangkaian acara Festival Dering Daring yang diadakan oleh komunitas Literaksi. Kelas bertema “Brainstorming Ideas for Online Content” ini benar-benar ngasih aku pencerahan untuk mengatasi creative-block alias enggak punya ide buat ngonten. Pembicara yang dihadirkan pun nggak kaleng-kaleng, loh. Kita diajak sharing bareng Kak Barajiwa Anggit, editor dari kanal YouTube edukasi sains terbesar se-Asia Tenggara, 'Kok Bisa?'

Mengenal Komunitas Literaksi 

Dari namanya bisa langsung tahu nih, kalau komunitas Literaksi merupakan komunitas yang bergelut di bidang pengetahuan literasi. Komunitas berbasis Yogyakarta ini rutin banget mengadakan kegiatan seru, loh. Seperti Rumpi Bioskop alias nonton film rame-rame yang dilanjut dengan diskusi asyik seputar film yang lagi beken, coaching class, diskusi dan update rekomendasi buku, hingga Festival Dering Daring yang sedang berlangsung dari Juli lalu hingga Oktober nanti. 
Nah, kalau ingin tahu lebih banyak bisa langsung cuss kepoin via Instagram Komunitas Literaksi, ya! 

Sedikit tentang Brainstorming

Brainstorming alias curah gagasan merupakan salah satu teknik kreatif yang digunakan untuk menjaring ide-ide spontan oleh sekelompok orang. Iya, nyeletuk asal yang berkualitas dan tentunya tanpa ada kritik. Tenang, brainstorming enggak harus rame-rame. Kamu juga bisa mencurahkan ide-ide liarmu sendiri. 
Di tahun 1953 Alex Oxborn, kakek pencetus teknik brainstorming ini beranggapan kalau gagasan-gagasan yang nggak direncanakan justru lebih cepat dan tepat digunakan untuk menganalisis sebuah situasi, melahirkan ide-ide baru yang inovatif, serta mampu menghasilkan langkah-langkah untuk pemecahan masalah. 

Mulai dengan Mengumpulkan Serpihan Ide

“Ntar aja deh, belum ada ide.” 

Satu catatan besar dari Kak Barajiwa, ide itu dibikin, diada-adain, bukan cuma ditunggu. 
Daripada bengong doang malah berujung menunda bikin konten, terus berakibat engagement sosial media kamu menurun, mending mulai brainstorming, mengumpulkan ide-ide liar kamu untuk dijadikan konten. 

Harus mulai dari mana?

1) Observasi 
“Lingkungan sekitar kita itu sumber konten.” 
Coba sesekali perhatikan, lalu bikin pertanyaan nggak penting dari suatu hal yang kamu amati. Contoh, nih, lagi beli di jalan, eh ketemu bule yang lagi dikerubungin orang-orang, coba buat satu-dua pertanyaan nyeleneh kaya; “Kenapa sih, kita suka wow kalau liat bule?
((Konsepnya mirip Sir Isaac Newton waktu bengong terus kejatuhan apel, ya?)) 

2) Membaca 
Semakin banyak membaca, semakin banyak inspirasi yang bisa kamu inovasikan dan melahirkan ide-ide orisinal ala kamu. Well, kamu enggak harus baca buku sastra atau yang berat-berat gitu, kok. Baca apa aja yang kamu suka.

3) Berdiskusi
Bukan berarti harus ikut forum resmi berisi para ahli. Cukup ajak obrol teman, keluarga, bahkan orang yang duduk sebelahan pas di halte. Obrolan basa-basi tentang apa pun, secara tidak langsung bisa memberi kamu ide segar untuk keperluan konten kamu~ 
Dari tiga cara di atas, kamu bisa menemukan banyak sekali gagasan-gagasan baru. Lalu, bagaimana ‘menyaring’ agar menghasilkan ide konten yang epic?
Kata Kak Barajiwa, ide berpotensi jadi konten epic kalau; relate dengan momen yang ada, berisi fakta menarik dan hal-hal out of the box yang bermanfaat bagi audiens, mengundang rasa penasaran, hingga memicu diskusi dari berbagai sudut pandang. 


Selanjutnya, Research! 



Serpihan ide dadakan yang sudah kamu kumpulkan bakal jadi lebih oke kalau didukung dengan hasil riset. Langkah ini penting banget! Ibarat bangunan, riset berperan sebagai fondasi konten yang artinya harus dibuat se-kokoh mungkin ((tapi bukan dicampur semen, ya guys!)). Cukup mencari data-data penunjang untuk ide yang telah ditentukan. Bisa dari website terpercaya, jurnal akademik, hingga penuturan ahli di bidang terkait, hindari blogspot atau situs pribadi, ya. 

"Riset yang bagus: fiksi bisa berasa nonfiksi, nonfiksi bisa berasa fiksi."

Sedikit tips dari Kak Barajiwa dalam melakukan riset: 

Pertama, google pertanyaan terkait ide dalam bahasa Inggris. Selain membantu kamu untuk mendapatkan sudut pandang yang berbeda, alasan lainnya adalah karena lebih banyak publikasi ilmiah yang diunggah menggunakan bahasa Inggris :) 
Kedua, pilih setidaknya dua sumber, teliti fakta dan jawaban dari pertanyaanmu pada masing-masing sumber, bandingkan satu sama lain, lalu ambil kesamaan yang mendukung idemu. Semakin banyak referensi, semakin tangguh pula riset untuk kontenmu. 
Terakhir, check-re-check plus catat biar enggak lupa apalagi keliru! Pastikan referensi yang digunakan sudah benar, juga sesuai dengan konten yang akan dibuat. 

Yang terpenting, mulai ngonten mengenai hal-hal yang pasti kita suka, bisa kita pahami, percaya diri untuk publikasi, dan yakin kalau konten yang dibuat sudah didukung riset yang oke. Semangat melahirkan konten-konten baru, guys!


catatan: tulisan ini dibuat atas izin Komunitas Literaksi😊


Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar