Cara Santai Hadapi Mumetnya Jadi Mahasiswa

by - Maret 07, 2020

unsplash.com/ScottWebb

“Jadi mahasiswa gini amat, yak?” –Testimoni sebagai mahasiswa baru di tahun 2017. 

Siapa bilang kuliah lebih enak daripada sekolah? Tidak seindah bayanganmu, nak-kanak. Masa sekolah apa-apa sesuai instruksi guru, buku tersedia, berangkat-pulang jamnya pasti, bener? Di perkuliahan kamu menentukan sendiri segala hal yang menyangkut kehidupanmu. Boro-boro dengerin dosen ngejelasin, seringan juga mahasiswa diminta cari materi, dipresentasiin sendiri di kelas, pulang-pulang dikasih tugas. Yaa, cocoklah kalau dikasih slogan ‘dari mahasiswa, oleh mahasiswa, dan untuk mahasiswa’. Horor, kan? Emang. Belum lagi kalau dosen tiba-tiba nggak masuk tanpa ngasih kabar padahal mahasiswa hobi telat sudah pada duduk anteng di kelas, whoopsie!

Mau lebih horor? Ingat, masa perkuliahan tidak akan membebaskanmu dari drama pertemanan dan percintaan. Justru lebih complicated. Circle pertemanan yang lebih bhinneka memungkinkan kamu ketemu orang dengan berbagai latar belakang. Kadang cocok, seringan enggak. 

Pusing?

Sudah, takutnya? 

Yak, mari mencoba untuk tetap tenang. Jadi mahasiswa memang berat, tapi ada opsi cara jitu, demi menghadapi kelangsungan kehidupan perkuliahan agar less worries

Pertama, tidak ekspektasi masa kuliah ≥ masa sekolah. Kenapa? Ya memang nggak gitu, hettt. Dari sistem belajar, sudah kusinggung di atas. Cara belajar pas kuliah itu lebih nano-nano. Tugasnya nggak lebih sedikit daripada tugas sekolah! Persoalan berteman juga sama. Nggak seperti waktu SMA yang hampir 10 jam selalu bareng teman-teman, di perkuliahan bakal lebih sering merasa sendirian. Jadi, enaknya kuliah cuma pake baju non-seragam, itupun bikin makin banyak cucian. Yok kontrol ekspektasi, yok~ 

Kedua, jadilah cuek, tapi nggak apatis. Ini adalah core of the core dari keseluruhan cara jadi mahasiswa chill. Ingat kata mbak Kirana Larasati ke mbak Jenny Jusuf, “Yaudah, si, Jen,...” mungkin penggalan kalimat itu bisa jadi pegangan hidup. Nggak semua masalah harus kamu tahu –apalagi masalah pribadi. Tips ini juga menjauhkan kamu dari overthink. Yaya, kadang kelihatan bego, sih, tapi mending daripada makin pusing. Walaupun cuek bebek, tetap mahasiswa nggak boleh apatis. Bedain

Ketiga, kenali dan yakin sama diri sendiri. Apa hubungannya? Akan ada masa di perkuliahan antara kamu dan teman terdekatmu menjadi saingan, bahkan tiba-tiba jadi lawan. Iri, kesel, misuh-misuhan, ugh! Oke, kompetitif itu wajib, tetapi nggak memforsir secara berlebih. Belum tentu yang dilakukan temanmu itu sama dengan kemampuanmu dan bukan berarti kamu nggak bisa berteman dengan orang yang bersangkutan. Temukan langkah suksesmu sendiri, Sayang –mencoba berbicara kepada diriku saat ini

Keempat, stop berharap lebih dan keep it balance. Ke teman, ke pacar, ke dosen, ke orang tua, cukup ke dirimu sendiri. Seriously, satu-satunya yang bisa melakukan isi pikiranmu dengan baik adalah kamu. Dengan nggak berharap lebih, seenggaknya kamu mengurangi rasa kekecewaan yang bisa timbul di lain waktu. Terus, penting juga membagi waktu antara kegiatan akademik, sosial, dan pribadi. Biar kuliah lancar, pertemanan meluas, dan mental tetap sehat. Semangat!

Kelima, banyak-banyak bersyukur. Mungkin ada fase temanmu mungkin sudah menemukan pekerjaan sampingan atau kegiatan lain dan kamu berpendapat itu lebih baik daripada kegiatan sehari-harimu yang isinya jalan-jalan, kuliner, nonton sama pacar, dan sama sekali belum menghasilkan cuan. Syukurin aja dulu, sambil berdoa dan berusaha besok lusa kamu bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah dan temanmu punya kesempatan menikmati pengalamanmu yang sebelumnya. Nikmat Tuhan itu adil, kok. 

Keenam, tetap berusaha, lah! Edan po goler-goler tok

Lakukan semua sesuai kata Hindia, secukupnya. Semoga pengalaman dengan curhatan implisit mahasiswi semester VI yang sedang pusing ini bisa bermanfaat agar semua kaum almamater universitas jadi lebih chillin'. Daaaaaadah!

Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar