Sedikit Pesan, Untuk ‘Aku’ yang Nanti Berusia Dua Puluh.

by - Januari 01, 2019

1999-2019. 

Sejahtera selalu untukmu, diriku.
Juga pembaca yang semoga tulisanku bisa selamanya menjadi berguna.
----------------------------
Untuk aku di usia dua puluh.

Selamat! Kamu semakin tua. Tanggung jawabmu bertambah. Bukan cuma soal diri dan nyawamu. Ada keluarga, teman, sekolah, kerja, dia, dan lainnya. Rumit, sampai enggan diri membayangkan menjadi baya. Masih nyaman sekali menjadi bocah. Tapi sekali lagi, usia adalah sebuah narasi hidup yang terus berjalan.

Tak apa, kamu masih bisa belajar.

Esok lusa kalau sudah semakin tumbuh, kamu mulai melihat dunia tak sesederhana ilusi dalam pikiranmu. Sesak. Bersaing. Menang sendiri. Fisikmu harus kuat! Otakmu terus bekerja! Dan hatimu terjaga tangguh! Jangan berhenti. Jahatnya kehidupan tak kenal kata menyerah.

Kamu harus belajar dari gobak sodor, menggapai garis finish perlu banyak usaha menghalau halangan. Kamu harus berlatih lompat tali, agar sigap menghadapi tali ujian yang akan lewat. Sedikit menutup mata untuk membidik seperti bermain kelereng. Walau agaknya sesulit engklek, tertatih perlahan dengan satu kaki sebelum benar-benar tegap di ujung impian.

Tentang ini, selayaknya kusampaikan ini padamu di awal paragraf.

Jangan pernah memalingkan wajah dari Sang-Pengampu Sembahmu. Datang awal untuk sembahyang. Berdoa! Minta restu mama papa, dan jangan meremehkan hati manusia. Jaga lisan, jaga perbuatan. Terus berbagi, selalu berkasih, dan kurang-kurangi tutur untuk mengeluh. Akalmu tak akan sampai bagaimana Tuhan menjalankan keajaiban takdir.

Untuk aku di usia dua puluh.

Cita-citamu boleh setinggi langit, tapi hati tetap harus membumi.

Semoga sisa usia lebih-lebih baik, penuh keberkahan, juga kebahagiaan. Hidupmu bukan hanya tentang seisi semesta. Mesti ingat Pemilik Sarwa akan bertanya apa-apa yang sudah kamu lakukan, dan bagaimana kamu mempertanggungjawabkan.

–Salam dariku, di usia sembilan belas yang sedang bersiap menyambutmu.

Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar