Hari Aneh Sedunia!

by - Desember 18, 2018

Sekali lagi kita sedang penat. Liburan memang telah dekat, tapi ujian lebih dulu merapat. Sayang seribu sayang, malas selalu menjadi sekat ketika mendulang semangat. Yasudah, mari kita jalan-jalan. Toh, ini tanggal 17!
14:30

Aku mengeluh, kamu juga. Untuk desain yang ditolak, teman yang tak ambil peran mengerjakan tugas, juga daftar pekerjaan rumah yang sama sekali belum tersentuh. Ah, bagaimana ini? Sedang minggu ujian sudah datang selang satu hari lagi. Tiba-tiba kacau.
Dan diantara penat, kamu berkelakar:
Ayo hutan pinus!
Yang benar saja, Bambang! Aku tersedak. Hendak menyangkal tidak tapi kelu. Yang terjadi berikutnya adalah aku dan kamu diatas motor yang melaju pasti menuju jalan Imogiri. Aku setuju. Susah sekali menolak ajakan melarikan diri auto dicoret dari daftar mahasiswa teladan.
Udara segar melambai bersamaan dengan jalan berlikuk menanjak. Hujan membuat pinus mekar sehijau-hijaunya. Rindang. Sesekali bau asap bakaran ranting dan daunan menyeruak, menambah syahdu hari senin yang tetap menyebalkan.
Aku tertawa, kamu pun begitu.
Menertawakan diri yang asik lari melupakan tanggung jawab. Sebelum pontang-panting sesak kehabisan alasan untuk bermalas-malas.
Sudah sampai. Kita tidak lupa parkir, dan salat asar. Sebelum berkeliling membaca satu persatu warung demi jadah tempe yang ternyata hanya ilusi. Akhirnya, tanpa makanan kita berlalu. Memasuki tanah merah becek dengan anak tangga yang menjulur kebawah.
Happy anniversary!”
Tidak ada yang lupa dari kita. Seketika mengingat memoar satu tahun lalu di pesisir pantai selatan. Lucu ya. Kamu berdiri malu, glonyar-glonyor, mengungkapkan, dan aku yang hendak kabur bahkan sebelum kamu bilang.
Kita tertawa, lagi, dan lagi.
Mengulang cerita satu tahun yang berlalu.
“Pertama kali shopping bareng tuh!”
“Di mana?”
“Beringharjo, kan?”
Kamu tertawa membenarkan.
“Iya, ngehibur kamu tu bete gegara sepatu ilang.”
“Hehehe makasiwwwww!”
“Terus habis itu kemana?”
“Taman Pintar donggg. Padahal lagi ospek pondok.”
“Hahaha.”
Tapi kemudian kita seperti lelah tertawa. Hening. Teringat jadah tempe. Aku lapar. Kamu bilang ingin ngemil. Kompak sekali, bahkan si perut ikut janjian mabar -makan bareng.
“Mau makan apa?”
Nah, kecolongan! Harusnya aku yang nanya biar kamu yang jawab. Karena lapar membuatku lemot berpikir.
“SOTOOOOOO.”
“Soto ter000s.”
Selalu protes. Padahal susah payah aku menjawab.
“Yaudah sate?"
“Kemarin udah taichan.”
Aku mengangguk, benar juga.
Lama sekali hendak memilih makan apa.
Steak?”
“Bokek.”
Seafood?”
“Masa kudu balik timoho?”
“Lah, emang harus?”
“Ya kagak.”
“Lah, Bambang ngajak ribut?”
Sudah mengerti betapa riwehnya kita memilih makanan?
“Magelangan Pathuk?”
Usulku sekian kalinya.
“Wah, jauh!”
"Tapi mau?”
“Kamu mau?”
“Mau.”
“Yaudah ayo!”
“Lah, jauh.”
“Gimana, sih?”
“Gausa wis.”
“Tapi mau?”
“Mau lah.”
“Yaudah ayo.”
“Nanti kamu capek.”
“Ya emang capek.”
“Yaudah gausah.”
“Katanya mau.”
“Ahelah yaudah ayo!”
Jadilah berangkat menyusuri jalan Pleret-Pathuk demi sepiring magelangan porsi kuli. Mantab. Imaji terus membuat perut keruyukan.
"Aku nyetir.”
“Gak, ngapain!”
“Hala pengen.”
“Nanti aja, di jalan raya.”
“Lah malah gamau kalo itu.”
“Iya udah gausah.”
“Ayo talaaaaaaa! Mumpung adem hehe.”
“Iya udah iya kamu nyetir.”
Akhirnya, aku memegang kemudi dari Becici  menyusuri Jl. Pengger. Lagi-lagi kamu mengalah, selalu mengalah dengan aku yang keras kepala. Sabar sekali. Sampai aku bingung, ini lelah atau pasrah.
“Dah sampe, nih!”
“Hlah cepet.”
“Menurut nganaaaa.”
Sepi. Baru ada aku dan kamu juga bapak penjual yang semangat sekali menyambut tamu datang.
17:23
“Ditunggu bentar ya, Mba, Mas.”
“Lama juga gapapa, Pak!” Katamu, sombong.
Duduk di ujung. Menikmati tepian jurang dengan matahari hendak tenggelam dan lampu-lampu kota yang bebarengan menyala. Manis sekali.
Seketika lupa kalau lusa sudah harus ujian akhir semester. Tapi tak apa, toh ini tanggal 17.
“Cie, anniversarynya dinner."
Failed-anniversary.”
"Kok failed?”
“Kan putus kemarin.”
“Kan udah balikan?”
“Emang udah?”
“Udah, kok!”
“Iyapo?”
“Kan.. kan..”
Aku terkekeh. Sejurus kemudian mengarahkan kamera menangkap momen kamu dengan latar hamparan kelap-kerlip lampu.
17:50
“Edehhh, lama bener!”
“Laper, ya?”
“Ho oh! Kamu sih bilang boleh lama.”
“Lah, katanya mau nunggu maleman.”
“Tapi ini kelewat lamaaa!”
“Sabar duh, Jenab!”
“Laperrrrrr!”
Mungkin bapaknya tau kita butuh waktu lebih untuk bersenda gurau. Lagi-lagi menertawai hidup yang kadang sama konyolnya dengan Spongebob. Juga bapaknya tau, kita tidak boleh melewatkan sunset dari balik bukit.
"Itu Amplaz!"
"Ngawur!"
Menunjuk kerlap-kerlip di langit yang mulai menjadi biru gelap.
"Itu pesawat."
"Bukan ya, bintang."
Sekiranya aku benar, itu cahaya bintang karena tidak bergerak dari tempatnya. Tapi kemudian aku membiarkanmu menang, posisinya berubah, ternyata itu pesawat hendak landing.
Demi magelangan porsi kuli! Aku sudah kelewat lapar!
"Nyel?"
"Be?"
"Bek."
19:21
"Permisi, Mbak.."
Akhirnya, Pak! Setelah penantian yang panjang, kau datang dengan dua piring magelangan! 
"YE MAKAN YE!"
Bukan lomba makan, tapi kamu habis duluan. Mengejek, katamu aku lama kalau makan, lalu mendukung menghabiskan porsi kuli. Semakin malam semakin dingin, tapi aku semangat makan. Yang penting aku senang, kamu juga.
Setelahnya kita bercerita, panjaaaaaaaaaang sekali. Banyak hal yang belum aku tahu dan kamu belum bercerita. Aku belum mau pulang sampai ceritamu habis, tapi kamu enggan mendengar lebih banyak, katamu takut kalau-kalau cemburu. Padahal aku lebih cemburu, haha.
Yasudah, terlalu panjang. Sampai Mas-Mas samping enggan menguping. Malam makin dingin, angin berhembus kencang. Seperti memanggil meminta segera kembali pulang.
Terima kasih untuk hari absurdnya!
20:30
"Eh, dah setengah 9!"
"Lah, masa?"
Perempatan Giwangan terpantau ramai lancar. Tidak ada Polisi patroli. Masih banyak yang tidak memakai helm. Yang penting kamu pulang hati-hati.
Selamat hari aneh hari jadi!

Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar