Mensive

by - Juni 07, 2018


Source : Pinterest



Akhirnya aku menemukan jawaban. Mengapa kamu bungkam dan kita berjarak.

Kamu datang, langsung membantu mengemas barang. Memang janji hari ini hendak mengurus pindah tinggal. Tidak banyak bicara, seperti satu minggu belakangan. Sibuk bermain ponsel di sela mengangkat banyak kardus.
Begitu sampai, kamu membuka pintu, dan tak ada obrolan atau tawaran hendak membantu. Aneh. Serasa asing dengan kamu yang dingin. Setelah aku meminta, barulah kamu tertawa renyah sembari membantu memasukkan bawaan.
14:00
Aku berkemas, dan lagi kamu sibuk dengan ponselmu. Sampai aku bicara pun tak diacuh. Selebar inikah jarak lepas selisih argumen kita waktu itu?
“Kamu ngapain?”
Akhirnya, setelah sibukku selesai kamu datang hendak membantu.
“Udah kok cuma nutupin tasnya pake plastik.”
"Oh,”
Kamu membantu sekenanya dan pergi keluar. Kembali bergelut dengan ponsel.
“Bentar ya, nunggu yang megang kunci dulu.”
“Iya.” Jawabmu singkat.
Melihatmu yang sibuk dengan duniamu, aku memilih mengitari ruangan. Satu demi satu, seolah menyibukkan diri. Mencari perhatianmu.
Percuma.
Kamu hanya menoleh sesaat, tersenyum, menunduk.
“Pinjem hp bentar deh..”
Kamu menoleh, enggan, tapi kemudian menyerahkan benda yang sedari tadi mendapatkan perhatianmu.
Beberapa pesan grup, beberapa pesan pribadi. Aku berhenti, melihat satu nama yang tidak asing.
....
....
A : Aku pengen, tapi bingung jelasinnya gimana.
A : Masih belum siap liat dia sakit hati.
A : Ini urgent.
A : Bantu kasih dia pengertian, tolong. Bisa?
B : Kamu yang harusnya ngasih dia pengertian. Bukan orang lain.
A : ...
....
....
....
‘Oh.’
“Sini bentar, deh!”
Aku diam, berdiri tegak di hadapanmu.
“Kenapa?”
“Peluk sini, terakhir, nanti kangen gabisa peluk lagi.”
Tatapan kita beradu dalam. Seolah berbeda mengartikan apa yang hendak terjadi. Kata ‘terakhir’ terdengar tak seperti seharusnya.
“Kayak mau mati.” Jawabku singkat.
“Jangan gitu, sini aja dulu. Besok-besok udah gabisa gini lagi..”
Aku diam. Menuruti rengkuhan tangan yang menarik sarira ke pelukanmu. Luruh. Merangkai potongan demi potongan berusaha mengerti apa yang hendak terjadi.
Eratmu dingin, Sayang. Entah aku yang terbawa emosi kemarin sore atau memang begitu.
“Udah ah, jangan kayak gitu. Besok masih bisa lagi.” Aku berusaha melepas rengkuhan. Menjauh.
“Itu pun kalau kamu mau, Beb.”
Aku di sini, selalu. Kamu tahu itu.
“Deket-deket sini lagi, nanti aku kangen.”
Setitik lagi menuju banjir di pelupuk mata.
“Udah, yuk! Nanti kemaleman.”
“Sekaliiii aja. Lagi.”
Aku menurut.
Sisa sore kita habiskan berdua. Tak banyak bercengkerama. Hanya berjalan beriringan mencari oleh-oleh sebelum masa liburan tiba.
“Aku bingung mau beli apa..”
“Tas? Sandal batik? Asal ga topi.”
“Kenapa ga topi?”
“Itu bisa dibeli di luar Jogja keles.”
“Terus apa?”
“Tas karung.”
“Hmm.”
Begitu terus hingga Malioboro bertemu Titik 0 km. Sudah sampai di ujung. Hari gelap, semakin ramai.
Apa yang bisa aku lakukan untuk mengulur waktu? Diam pun tak apa asal bersamamu, menggenggam tanganmu yang dingin. Berpura-pura. 
Aku mengambil jarak, pelupuk kembali menggenang.
“Yaudah ayo makan. Mau makan dimana, Jen?”
Demi apa pun, mendengar namaku dengan suaramu sangat asing. Tidak biasanya begitu. Bahkan jika bertengkar sekalipun.
“Warung yang di Babarsari itu nggak apa..”
“Ok.”
Sepanjang perjalanan itu aku diam. Sengaja tidak mendengarkan apa pun termasuk ucapanmu. Pikiranku bergulat, separuh menyiapkan diri separuh lagi berpikir semua baik-baik saja. Seperti yang kamu bilang setiap hari.
Tempat makan tak seramai biasanya. Seolah sengaja memberi ruang untukmu, untuk kita.
Memesan makanan, menghabiskan makanan, diam. Sesekali mual karena minum susu setelah makan mi gurih. Kamu tertawa, tapi kemudian bungkam.
"Aku mau ngomong. Serius.”
Mengulur waktu belum pasti membuatmu tenang. Seharian seperti tak ubahnya satu menit.
"Ngomong aja.”
Aku memangku dagu, bersiap mendengarkan. Sekalipun belum siap, harus tetap siap. Seperti siapnya kamu mengatakan semuanya. 
Kamu menarik napas dalam.
“Kamu tau latar belakang keluarga kita yang beda, dan itu sulit buat disatuin..”
Lagi, kamu menarik napas dalam.
“Aku sayang kamu, Jen, tapi kita harus. Aku capek kudu terus-terusan sembunyiin semua tentang kita.”
Aku mengangguk-angguk, sangat paham.
“Maafin aku, aku salah, aku sayang kamu.”
Aku menarik hidung, membentuk hidung babi, mengejek.
“Serius, maafin aku.”
“Engga.”
Setelah beberapa saat akhirnya suaraku mau ikut keluar. Menahan supaya tak terdengar bergetar. Aku kuat.
Air matamu menggenang. Matamu merah, dan sepertinya sebentar lagi hidungmu tersumbat.
“Maafin aku..”
“Aku nggak mau.”
“Kenapa nggak mau?”
“Mauku gitu.”
"'Kan aku udah usaha minta maaf.”
“Iya, yang penting udah usaha kan?”
Kamu diam.
Ya Tuhan, tahan air mataku sampai aku sendirian.
“Kamu tetep bisa panggil aku kalo butuh apa-apa. Nanti, kalo memungkinkan aku bantu, ya bantu.“
Aku mengangguk.
“Sayang...”
Mendengar panggilanmu seperti mencengkeram dada, nyeri. Aku bisa merasakan tanganku gemetar, kakiku terus bergerak, dan nafasku tertahan. Apalagi yang bisa kuusahakan agar pertahananku tak runtuh di depanmu?
“Iyaaa gapapa. Santai. Kudu saling ngerti kan? Aku udah tau.”
Dua alismu bertaut, heran?
“Aku baca pesanmu sama si B, lupa kamu hapus.”
Segera kamu memeriksa ponselmu. Dan benar saja masih ada history pesan yang aku maksud.
"Ya Gusti, maaf. Aku nggak niat apa-apa. Cuma minta saran. Dia temen deketmu.“
Aku mengangguk, berusaha menerima. Bahkan kamu lebih percaya pada temanku daripada berbicara langsung padaku, Sayang.
“Iya. Santai.”
Pandanganmu beralih, masih dengan mata merah.
Lucu, hidungmu kembang-kempis.
Ya Tuhannn! Mulai esok wajah di depanku akan jauh. Tak lagi menatap setiap pagi. Jarinya bukan lagi menggenggam tanganku. Sarira tak bisa lagi memeluk tiap duduk di kursi belakang motor. Tidak lagi memutari Jogja berdua.
“Gausah nangis sih, kaya sedih banget.” Aku menceletuk memecah hening.
“Ah,”
Aku bisa melihatmu mengusap air mata walau hanya menempelkan tisu di wajah.
“Toh kita masih temen. Temen baik.”
Seperti yang kubaca di pesanmu, kamu ingin kita tetap berteman baik. Bukan begitu?
“Udah ah, ayo balik!”
Kamu mengangguk. Berdiri. Dan mengikuti berjalan meninggalkan tempat makan.
Duduk di boncenganmu, Sayang, mungkin menjadi hal paling menyenangkan setelah aku mengenal Jogja dengan kamu di dalamnya. Menyusuri jalanan Jogja dari Utara hingga Selatan menjadi pengalaman yang tak pernah bisa dilupakan, pasti. Tapi, malam ini, kamu membuatnya biru. Enggan duduk di sana, yang setelahnya aku tahu, pasti berpisah. Kamu mengatakannya tepat sebelum libur semester tiba. Katamu, biar aku bisa menyenangkan diri dalam dua bulan. Tak apa, setidaknya kamu baik hati memberikan waktu luang yang panjang, tanpa kamu.
Warung mi itu seperti saksi bisu, betapa aku harus kuat menahan air mata di depanmu.
“Nanti kalo kangen, bilang, gausah  gengsi.”
“Dih, ngapain kangen?”
“Biasanya kan gitu, move on butuh proses.”
Aku mengangguk, “Iyain aja, biar mantan seneng.”
“Jen?”
He em?”
Kamu menarik napas, “Move on-nya jangan cepet-cepet ya?”
“Nanti sakit, liat Jejen sama yang lain. Hehe.”
Mendungku berubah menjadi tetesan gerimis. Pertahananku ambruk sebentar lagi, tahan.
“Paling juga kamu yang dapet gandengan baru duluan.”
“Doain aku biar tetep sendirian.”
Aku mengangguk, walaupun yakin kamu tak bisa melihatnya.
Waktu seakan berjalan cepat. Setelah obrolan di warung tadi, seperti membuat kita kembali saling mengenal. Bercengkerama, sebagai mantan.
“Aku sayang kamu,”
Dih, apaan?!”
“Serius ini, nggak main-main!“
“Kalo nggak main-main, ya dinikahin!”
Deru angin menyamarkan suara.
InsyaAllah, diusahakan, Neng.”
Ah, usaha menghibur yang bagus. Kamu tahu aku benci panggilan Neng
“Mungkin dengan kita kaya gini, bisa bikin hubunganmu sama temen-temenmu lebih akrab.”
Kamu tahu, Sayang? Saat ini, satu-satunya teman yang aku percaya begitu sangat adalah kamu. Memelukmu dalam, sembari bercerita melepas lelah kegiatan seharian. Bisakah itu tergantikan?
“Udah, ah, sana pulang!”
“Diusir, nih?”
“Iya, biar aku nangisnya sendirian. Sana!”
Kamu berusaha menggenggam tanganku. Aku mengelak, berulang kali. Tidak ada waktu lagi, kamu harus pulang!
Dan, kemudian kamu menyerah. Bersiap pulang setelah mengucap kalimat sayang dan janji esok pagi menjemput untuk mengantar ke stasiun pagi-pagi.
Aku ingat, aku tetap berjalan tenang, memasuki ruanganku, dan bersiap tidur dengan sangat normal. Berganti pakaian, mengenakan kaos kaki, menatap layar ponsel menunggu pesan. Lama. Baru kemudian pertahananku runtuh, pesan yang ditunggu tidak datang. Mungkin tidak ada lagi, atau aku yang terlalu berpikir buruk padahal kita masih teman baik? Ah, entah. Aku tenggelam, Sayang. Jauh pada pikiran tak seharusnya. Menangis lebih dari sesengukkan. Sesak.
Merubah kebiasaan, menjadi mandiri, memilih diam, menjauh.
Jadi, itu caramu membuka semuanya? Melepas simpul yang berawal Januari lalu. Keputusan terbaik, katamu. Bahkan, tidak ada yang lebih baik daripada menutup catatan kita, di tanggal lima bulan yang ke lima.


–Sancaka di perbatasan Yogyakarta-Solo, Selesai.

Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar