gembeng.

by - November 06, 2018


Selasa sesak membosankan. Kuliah-tugas-ukm-bernapas-makan. Kewajiban-kewajiban-pilihan-kewajiban-kewajiban. Satu opsi nyempil diantara padatnya tanggungan, dan selanjutnya berubah wujud menjadi suatu fardu yang harus dituntaskan. Ah, penat! Padahal, kemarin sudah jalan-jalan ke Sekaten.
Aku rindu rumah. Bukan bata dengan jendela. Rumah yang ketika aku kembali, berseru hidup! Berteriak penuh semangat, “DARI MANA AJA?!”. Yang menerima uluran tangan dan segelas susu hangat kala hujan, pun hanya tiga-empat hari seminggu, ketika mama benar-benar dirumah.
Atau yang begini, sedang menonton televisi dan tiba-tiba mati. Alih-alih belum bayar token ternyata ada pria berkopiah bulat melotot, memegang tombol merah di remot, sambil mendesis tajam, “SALAT!”. Kemudian aku terbirit mengambil air wudu, ngeri.
Pula si Ojan. Gempal menyebalkan yang seenak jidat pencet-pencet tombol power wifi cuma gara-gara, “GAME KU GA NGE-LOAD, CE!”. Tukang makan-tidur-game-makan-pup-makan-game-tidur-makan. Tapi, nggak mau cuci piring, apalagi masak. Yang sekarang makin tinggi, but, tetap belum –mau, punya pacar. 

Huh.
Apa Jogja sejauh itu, ya? Sampai sepertinya pulang harus bersabar menunggu libur panjang. Belum lagi potong hari penuh kegiatan yang tak kenal tanggal merah. Rindu di tanah rantau yang keras. Seketika merasa bodoh sekali, lari, dan menjadi pengecut yang salah pilih kandang, merasa tidak bisa apa-apa. Nahasnya, bertemu sekumpulan rekanan yang kebal telinga.
Aku mau menangis. Sekuatnya. Biar setelah itu dibilang bocah, cengeng, rapuh. Sepertinya  aku tidak peduli. 

Aku hanya sedang rindu rumah.

Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar