Setelah Lewat Tengah Malam

by - Mei 30, 2018

Source : Pinterest


Sore di kota yang sama.

Setelah kejadian tak mengenakkan kemarin. Berpapasan dengan orang asing dengan wajah dikenal. Ada apa? Seperti berpengaruh sekali dengan hari-hari kita. Mungkin iya, karena orang asing tersebut tak asing padamu.

Katamu ini berbahaya. Orang asing dengan mulut tajam tentang kita. Tidak bisa lagi menjadi rahasia. Harus berjarak. Sudah cukup waktu kita selalu berdua.

Memangnya dia sudah bercerita tentang kita pada semesta?

“Belum,” Jawabmu mengambang di tengah ramainya restoran pizza.

“Tinggal hitung waktu dan setelahnya usai.”

Aku diam. 

Ini tentang kita. Tapi kamu tidak melibatkan aku di tiap paragraf cerita. Membiarkan akal bingung menebak. 

“Kamu terlalu bergantung. Kenapa begitu?”

Ya Tuhan. Demi Sang Agung Pencipta seluruh alam, umat manusia, dan kamu.

Aku tahu. Tapi enggan menjawab.

‘Karena aku percaya ..’

Mungkin kamu belum begitu.

Mungkin kamu sedang lelah. Butuh waktu. Butuh jarak. Butuh istirahat. Enggan bicara. Asyik sendiri. Dan sedang lupa.

Atau memang aku yang tidak tahu diri.

※※※

Satu hari berpisah dengan sira, seperti hening tapi tidak tenang. Ada yang hilang dari kebiasaan. Tapi tak apa, kan aku sudah berjanji, berhenti membuatmu repot di pagi hari, tidak lagi menjadi penyebabmu terlambat karena bangun siang. Sudah, kamu sudah tenang. Hidup hidupilah pagimu dengan nyaman. Semoga aku bisa berdiri sendiri, berlarian sendiri, bersenandung sendiri. Sesekali jika boleh bersamamu, jauh di keasingan. Hendak menghirup aroma sira dari dekat. Semoga sira tidak bosan, bahkan jika nanti pesanku lebih banyak dari operator telepon. 

Pesan untuk kita, setelah dua loyang pizza dan satu kotak bananugget dengan lilin.


Yogyakarta, 29 Mei 2018

Yuk, cek artikel yang ini!

0 komentar